Jalan Pacewetan “Ladang Berlubang”, Warga Hidup dalam Bayang-Bayang Ketakutan Malam Hari
Berita Probolinggo– Malam hari di Desa Pacewetan, Kecamatan Pace, Nganjuk, bukanlah tentang keheningan yang menenangkan, melainkan tentang kegelapan yang menyembunyikan bahaya. Suara jangkrik dan hembusan angin dari persawahan diselingi oleh deru mesin motor yang pelan dan hati-hati, seolah-olah para pengendara sedang menyusuri medan ranjau. Medan ranjau itu adalah jalan desa mereka sendiri—ruas jalan yang rusak parah, berubah dari akses penghubung menjadi momok menakutkan yang mengintai di kegelapan.
Sebuah laporan investigasi Jawa Pos Radar Nganjuk mengungkap kondisi memprihatinkan ruas jalan sepanjang 850 meter yang membentang di area persawahan ini. Kerusakannya bukan sekadar berlubang biasa. Permukaan aspal hampir seluruhnya terkelupas, meninggalkan bekas seperti kerak bumi yang retak akibat kemarau panjang. Beberapa lubang sedalam betis orang dewasa menganga, siap menyergap roda kendaraan yang lengah.
Wakid, seorang warga setempat, mengeluh dengan nada putus asa. “Ini sudah seperti ritual yang tidak ada habisnya. Pernah diperbaiki, tapi tidak lama kemudian rusak kembali. Sepertinya hanya ditambal seadanya, tidak dilakukan perbaikan yang menyeluruh dan berkualitas,” ujarnya, sambil menunjuk sebuah lubang besar yang telah dikelilingi oleh batu bata sebagai ‘peringatan’ seadanya.
Korban Telah Berjatuhan, Nyawa Jadi Taruhannya
Titik nadir dari kelalaian ini bukan hanya pada ketidaknyamanan, melainkan pada nyawa yang telah menjadi taruhannya. Jalan ini telah ‘memakan korban’. Beberapa waktu lalu, seorang pengendara motor mengalami kecelakaan tunggal karena terperosok ke dalam lubang yang tersembunyi. Beruntung, korban hanya mengalami luka-luka ringan. Namun, insiden itu menjadi pengingat kelam bagi seluruh warga bahwa kecelakaan berikutnya bisa berakibat fatal.

Baca Juga: Padepokan Dimas Kanjeng Dari Spiritualitas Menuju Gravitas Kebahagiaan di HUT RI ke-80
“Kalau malam di sini gelap gulita karena tidak ada penerangan jalan umum (PJU). Lubang-lubang itu sama sekali tidak terlihat. Kita hanya bisa pasrah dan mengandalkan firasat atau ingatan saja,” jelas Wakid, menggambarkan betapa warga harus bersiasat setiap kali melintas.
Ketiadaan lampu jalan memperparah kondisi secara eksponensial. Jalan yang sudah rusak di siang hari, berubah menjadi jebakan maut di malam hari. Akibatnya, warga yang memiliki urusan pada malam hari memilih untuk mengambil jalan memutar yang lebih jauh, menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya bahan bakar, hanya untuk menghindari ‘lorong bahaya’ tersebut.
Ribuan Pelajar Terdampak, Akses Pendidikan Terhambat
Yang membuat persoalan ini semakin krusial adalah peran jalan ini sebagai akses vital menuju SMAN 1 Pace, salah satu sekolah menengah favorit di wilayah tersebut. Setiap hari, ratusan bahkan ribuan pelajar dari desa-desa sekitarnya seperti Joho dan Pacekulon bergantung pada jalan ini untuk menuntut ilmu.
Bayangkan perjuangan mereka: di pagi hari buta, dengan penerangan seadanya dari lampu motor, mereka harus berjibaku dengan gelombang dan lubang untuk sampai ke sekolah. Tidak hanya berisiko cedera, kondisi ini juga menyebabkan kelelahan ekstra dan meningkatkan tingkat stres sebelum pelajaran bahkan dimulai.
Yang lebih memilukan, kerusakan tidak hanya berhenti di satu titik. Menurut pantauan, kondisi serupa juga terjadi tepat di sepanjang jalan depan SMAN 1 Pace, dengan panjang sekitar 500 meter. Jalan di depan sekolah itu bergelombang dengan tonjolan aspal yang keras dan tidak rata, tepat di tengah-tengah jalur lintasan, menjadi ujian ketangkasan lain bagi para pengendara.
Jeritan Hati Warga: Perbaikan Total, Bukan Sekadar Tambal Sulam
Jeritan hati warga Pacewetan dan para pelajar SMAN 1 Pace sangat jelas: mereka meminta perbaikan yang menyeluruh dan permanen, bukan sekadar tambal sulam yang bersifat sementara. Mereka menuntut solusi yang berintegritas, yang mempertimbangkan kualitas material dan proses pengerjaan yang tepat.
“Kami sudah lama bersabar. Yang kami khawatirkan adalah jika ada korban jiwa. Jangan sampai menunggu ada yang tewas dulu baru jalan ini diperhatikan serius,” pesan Wakid, mewakili keresahan ribuan orang yang terdampak.
Mereka juga berharap agar pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU) dapat segera direalisasikan. Keberadaan lampu jalan tidak hanya akan menerangi jalan yang rusak, tetapi lebih dari itu, akan menerangi rasa takut warga, memberikan mereka rasa aman dan kepastian bahwa perjalanan pulang di malam hari tidak akan berakhir di lubang yang sama.
Pemerintah daerah dan dinas terkait dituntut untuk segera turun tangan. Perbaikan jalan di Pacewetan bukan lagi sekadar masalah infrastruktur, melainkan masalah keselamatan publik, akses pendidikan, dan pemenuhan hak dasar warga untuk mendapatkan pelayanan yang layak. Setiap hari yang ditunda, sama saja dengan membiarkan sebuah bom waktu berdetak di tengah kegelapan Pacewetan.





